|
LIFE AFTER LIFE AFTER LIFE AFTE.... |
|
|
|
|
Written by Ki Bodas
|
|
Monday, 24 August 2009 08:15 |
LIFE AFTER LIFE AFTER LIFE AFTE……
Hidup seperti Barisan Parade
Melewati Tribun Kehormatan dengan khidmat
Ibu-Bapakku, kakek-nenekku, sudah lewat, tammat
Kami mau melintas, mana itu sorak dan hormat ?
Pelajaran dapat disimak dengan cermat
Hidup seperti Rumpun Bambu berbaris bersatu
Dengan ruas-ruasnya yang sinambung menyatu
Hari ini kita disini serempak berderap sepatu
Selepas tribun kehormatan kita bubar-jalan disitu ?
Lalu apakah kita jadi sendiri-sendiri ?
Atau jadi Sintesis Entitas Memori
Bersama Sang Maha Mandiri ?
Tak terikat lagi Tahun, Bulan dan Hari
LIFE I :
Selalu diiringi Tanya itu-itu melulu
Dari Sini terus kemana nanti berlalu ?
Bekal agar hidup enak di Sana, apa perlu ?
Bekal apa? Roti keju atau kue bolu ?
Lalu dipakai Analogi kata-kata
Anugerah dan Hukuman dari raja-raja kita
Penjara dan Tamansari di kota-kota
Dibawa kesana agar manusia tetap taat Tata
Seperti di Dunia ! Ini analogi Rejim, jelas nyata
Bagaimana jika disana tak ada Pemerintahan ?
Tak ada Kerajaan Surga dan itu Analogi perbantahan
Yang ada hanya mahagaib Tuhan tanpa Kesusahan
Dia bukan Raja, walau analogi manusia bilang begitu, kasihan !
Dan Buku-buku Dosa akhirnya ditutup berkesudahan
Itu semua Rekaman Terpendam yang dipasang Tuhan
Hanya dimengerti Tuhan, kita hanya Sahaya Kepatuhan
Seperti Wayang-wayang, ditangan Sang Dalang Sembahan
Dimana letak Pikiran ? Diantara Ubun-ubun dan Pelepasan
Tak mampu meredam kita dari Goncangan dan Hempasan
LIFE II
Mulai ditanya apa Arti ini semua keTakdiran
Apakah hanya ada Alun-alun rumput Pikiran
Untuk kita berkeliling-keliling berputar-putaran
Dalam hening meditasi dzikir hanya ada satu Sasaran
Bukan riak-alun Kesementaraan berbuih Pikiran
Pikiran tak boleh ada di Hidup Besar itu
Jika ada, maka Perang pasti pindah kesitu
Bergandeng dengan Pikiran, mengekor Nafsu-nafsu
Yang sudah ditinggal dalam Daging-Kulit-Baju
Yang mengontrol Diri adalah Ruhmu sendiri
Memang ada Gusti dan para Malaikat suci
Ruhmu juga suci ! Tapi kenapa perbuatanmu dicaci ?
Itu Rekaman yang dipasang Tuhan untuk dikikis dicuci
Itu bisa dimainkan atau ditutup rapat-rapat dikunci
Kau dapat melakukannya, jika kau dekat denganNya
Ruhmu tak mampu berbuat se debu pun Dosa!
Lalu kau dimonitor dicatat hari demi hari di Dunia
Bukan untuk mencatat kekhilafanmu semata
Tapi terutama merekam Keberhasilanmu mencuci Dosa
Yang telah direkam di Memori dasarmu dibawah Karpet Rasa
Kau hanya bisa melakukan itu dengan Ikhlas yang perkasa
Karena Ruh tak mampu berbuat Dosa
Ruh sejahat-jahatnya orang tak akan binasa
Maka mereka tak akan Mati sia-sia
Di Neraka Ruh hanya melewati Api yang berkobar
Seperti Sinar Laser menembus-lewat Api unggun besar
Dia bukan lagi daging karbon dan tak akan terbakar
Hanya Rekaman Dosanya terhapus terbongkar
Mereka kembali suci-dosa, maka tak Hidup di Neraka
Sejak semula Ruh adalah suci dan tempatnya di Surga
Benarkah Katasandi begitu ada di Suratsuci al A’laa ?
“Tsuma laa yamuutu fiihaa, wa laa yahyaa !”
|
|
Last Updated on Wednesday, 02 September 2009 12:27 |